 |
Bonus sewa mobil di Sewa
Mobil Bali.Biz
Dapatkan bingkisan oleh-oleh khas Bali berupa Kacang Disco setiap sewa mobil charter di Bali Sewa Mobil.Biz periode liburan Juni, Juli,Agustus 2009. Kacang Disco, oleh-oleh khas Bali rasanya gurih, nikmat dan bikin lidah bergoyang, cocok dinikmati saat santai atau relax. Sewa mobil (Suzuki APV / Avanza New) 10 jam hanya Rp.400.000 sudah termasuk pengemudi pariwisata dan BBM. |
 |
Sewa mobil Karimun Estilo murah di Bali dengan harga promo Rp.240.000 / 10 jam.
Harga sewa mobil sudah termasuk mobil + driver tanpa BBM, buruan pesan |
Harga promo sewa mobil ini memang jujur dan
murah, dikemudikan oleh pengemudi pariwisata/guide.
Hubungi Hotline : 0361 9191543 SMS: 0852 3703 1956
|
Budaya masyarakat Bali tidak jauh bergerak dari interaksi dengan
alam lingkungannya. Olah pikir manusia Bali dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya lahir batin hampir seluruhnya adalah gambaran dari
paduan nalar dengan potensi alam sekitarnya.
Membaca Pesan Alam
Soal arsitektur misalnya, hunian masyarakat Bali di pegunungan
Kintamani tentu tidak akan sama dengan perumahan masyarakat
Bali di daerah dataran Gianyar
maupun di daerah pesisir Kuta
kendati iklim dan cuaca tidak jauh berbeda. Sirap bambu lebih
diminati sebagai bahan atap di daerah pegunungan Kintamani
karena, selain perlindungan pada udara dingin, sebagian pegunungan
Kintamani ditumbuhi oleh tanaman bambu. Sedangkan daerah dataran
dan pesisir lebih memilih alang-alang sebagai penutup atap
karena bahan itulah yang disediakan oleh alam sekitarnya.
Tak hanya soal bangunan saja budaya manusia Bali amat beragam.
Di pulau kecil ini, perilaku manusianya memiliki ciri tersendiri
dalam melakoni kesehariannya mereka. Tatacara bicara, bahasa,
dialek dan sikap berkomunikasi amat jelas menunjukkan asal
wilayahnya. Dalam perilaku melaksanakan agama dan berkesenian
pun tampak warna-warna lokal yang amat menonjol dari masing-masing
wilayah di Bali.
Desa Kala Patra, tempat waktu dan keadaan, tiga unsur inilah
yang akhirnya terlihat sebagai unsur pembentuk beragamnya
perilaku manusia Bali dalam menjalani kesehariannya. Walaupun
kemasan budaya manusia Bali tampak memiliki ciri khas masing-masing
wilayah namun tujuannya terpusat ke satu arah, yaitu persembahan.
Dalam bait sastra pun mereka menemukan pembenaran atas perbedaan
yang memiliki satu tujuan.
Keseharian Manusia Bali
Masyarakat Bali, khususnya pemeluk agama Hindu adalah masyarakat
yang unik. Semakin unik perilaku itu bila teropong lebih diarahkan
pada sikap manusia Bali di era kini. Seolah biasa, seorang
gadis Bali menari dengan gemulai dan nanti di Banjar atau
Pura, bahkan di sebuah hotel, padahal sore sebelumnya dia
bekerja sebagai pekerja biasa misalnya pedagang atau melakoni
pekerjaan lainnya.
Perilaku seperti itu tampak seperti sosok yang memiliki dua
kepribadian namun sebenarnya penduduk Bali lebih memandang
hal itu sebagai lakon dalam menjalani keseharian, sebagai
usaha dalam membangun karma. Karenanya amat mungkin seorang
wanita pedagang yang “tak berarti” di tengah kerumunan
pasar, sesaat kemudian akan menjadi pusat perhatian sebagai
penari Rejang saat persembahan dalam suatu upacara di pura.
Bila ditelusuri perilaku demikian amat mungkin terjadi karena
tatanan atau struktur masyarakat Hindu Bali. Tidak hanya pola
pelapisan masyarakat warisan Majapahit saja yang dianut secara
penuh namun adapt istiadat setempat pun memberi warna pada
penataan masyarakat Bali. Inilah yang menyebabkan sering ditemukan
tatanan yang berbeda dari satu desa dengan desa yang lainnya
namun memiliki keterikatan sama dalam satu model tatanan Desa
Adat.
Arsitektur Bali
Arsitektur, meskipun dapat dikategorikan
dalam senirupa, pada kenyatannya memerlukan keahlian artistik
yang mensyaratkan keahlian memadukan aspek-aspek teknis, ruang
dan keindahan untuk kesempurnaan hasilnya. Dipengaruhi oleh
tuntutan fungsi-fungsi yang melekat didalamnya, seni arsitektur
kemudian berkembang dinamis, melahirkan bentuk dan wajah yang
beragam. Arsitektur harus mampu memenuhi salah satu dari 5
kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan, papan, ruang kegiatan
arsitektur, kesehatan dan pendidikan) dengan memadukan keahlian
teknis dan ketajaman rasa.
Lebih khusus lagi Arsitektur Tradisional
Bali tidak saja menganut pakem seni, teknis dan rasa ruang
namun didalamnya terkandung pula tatanan filosofi adat dan
agama Hindu. Prosesi mengolah bahan bangunan misalnya kayu
yang berasal dari pohon tertentu sampai menjadi elemen bangunan
merupakan tahap-tahap yang mesti dilakoni dengan nilai filosofi,
adat dan agama. Pohon dengan ketinggian tertentu yang saat
ditebang menimpa sungai, misalnya, tidak bisa dipergunakan
sebagal bahan bangunan karena akan menimbulkan akibat buruk
baik pemakainya. Aturan adat dan agama seperti ini pada hakekatnya
adalah untuk memberi perlindungan terhadap alam lingkungan
sehingga kelestarian akan terjaga.
Arsitektur Tradisional Bali memiliki sangat
banyak aturan, tatanan adat dan filosofi agama yang mesti
dipahami dan dianut oleh seorang arsitek tradisional (arsitek
Bali disebut Undagi). Karena itu, seorang Undagi pada dasamya
adalah manusia utama yang mampu memahami seni, komposisi,
proporsi, teknis, rasa ruang, filosofi agama, aturan adat
(awig- wig) dan bahkan sepatutnya memahami puja mantra karena
sang Undagi juga berhak melakukan prosesi keagamaan saat memulai
pekerjaan (upacara Ngeruak Karang), masa pelaksanaan hingga
peresmian bangunan (upacara Pamelaspas). Dalam mewujudkan
rancangannya, sang Undagi dibantu oleh tenaga pelaksana yang
ahli dibidangnya seperti tukang batu, kayu, struktur dan tukang
ukir yang disebut Sangging.
Jika di Bali terlihat bentuk bangunan yang beraneka ragam,
hal itu disebabkan karena fungsi, pemakai dan daerah yang
berbeda. Semua aturan dan tatanan mengenai arsitektur tradisional
Bali terhimpun dalam naskah kuno berupa lontar, antara lain:
Asia Bhumi, Asia Kosala dan berbagai lontar tentang tata cara
pelaksanaan upacara pada bangunan.
Seni Rupa Bali
Seni lukis dan seni patung maupun seni pahat
atau ukiran ini terbagi dalam dua bagian, yaitu berlanggam
klasik dan modern. Langgam klasik sangat terlihat bercorak
pewayangan, baik bentuk maupun tema yang diketengahkan dalam
lukisan atau pahatan tersebut.
Lukisan gaya klasik Bali hanya terdapat di desa Kamasan, Klungkung.
Lukisan model Kamasan mengambil bentuk dan tema pewayangan
dengan penggunaan warna-warna yang cerah. Lukisan gaya Kamasan
di langit-langit Bale Kertagosa dan Taman Gii Klungkung adalah
peninggalan jaman kerajaan Klungkung
yang menyodorkan tema pewayangan Mahabarata.
Masih berpegang pada langgam pewayangan, seni patung, pahat
dan ukir klasik, menunjukkan gaya yang sama dengan tampilan
tiga dimensi. Sedikit berbeda dengan seni lukis klasik, seni
pahat agak berkembang karena kebutuhan dan cabang seni lain
seperti misalnya seni tari topeng, wayang wong, dan juga bidang
arsitektur.
Pada perkembangan berikutnya, masuknya pengaruh luar pada
jaman penjajahan Belanda, muncul gaya seni lukis modern. Tidak
saja tema, namun gaya coretan dan penggunaan media pun lebih,
bervariasi. Gaya Ubud, Pengosekan, KeIiki dan Batuan adalah
pelopor munculnya seni lukis gaya modern. Seniman Bali tamatan
sekolah seni, baik di Bali maupun di luar bali, memberi warna
baru dalam perkembangan seni rupa. Dan gerakan inilah, dunia
seni rupa Bali mengalami perkembangan, terutama akibat sering
bersentuhan dengan pariwisata yang menyebabkan semakin tumbuh
menjamurnya sarana gallery dan toko seni sepanjang kawasan
wisata.
|