Masalah keimigrasian di Bandara Ngurah Rai layaknya seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Kendati persoalannya sudah diketahui, belum satu obat manjur pun yang mujarab untuk menyembuhkan. Walau begitu, krodit yang terjadi harus diatasi.
"Masalah di bandara khususnya visa on arrival (VoA) seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan," ujar Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Bali, Rabu (17/2) kemarin. Menurutnya, berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah propinsi untuk mendesak pemerintah pusat memperbaiki layanan imigrasi.
"Propinsi bahkan sudah mengirimkan video kepada pimpinan pusat mengenai krodit di bandara, namun hasilnya tetap saja seperti ini," tandasnya. Antrean di loket imigrasi memang biasa di seluruh dunia. Namun yang tidak biasa adalah lamanya tidak ketulungan.
"Beberapa waktu lalu, saya menerima laporan ada wisatawan yang histeris karena kesal terlalu lama menunggu," imbuhnya. Sejumlah majalah asing menobatkan Bali sebagai pulau terbaik. Hal ini benar-benar memprihatinkan dan sangat ironis dengan sejumlah predikat pulau terbaik yang disandang Bali.
Dikatakan, pihaknya pernah melakukan rapat konsultasi dengan Kementerian Budpar untuk membahas persoalan ini. "Hasilnya juga sama saja. Persoalan di bandara tetap saja terjadi," terangnya. Dikatakan, persoalan keimigrasian khususnya VoA bisa disebabkan bandara kita memang tidak dirancang untuk VoA.
General Manager (GM) PT AP I (Persero) Bandara Ngurah Rai, beberapa waktu lalu sempat juga memberikan keterangan mengenai krodit VoA. Menurutnya, bandara kita sudah tidak memadai menampung penumpang yang begitu banyak. Pada jam-jam tertentu saat sejumlah penerbangan datang berbarengan pasti akan terjadi penumpukan di loket imigrasi.
” Bali adalah bagian dari citra Indonesia di mata dunia. Kita tidak mau orang kecewa,” kata Patrialis Akbar Menteri Hukum dan HAM saat melakukan sidak 16 November 2009 lalu. Patrialis dan Menbudpar Jero Wacik datang ke loket pengurusan VOA yang tengah dipenuhi wisman.
Di 26 loket pengurusan VOA dan delapan non-VOA, ada enam unit komputer tidak berfungsi. Dalam kesempatan tersebut Patrialis berjanji akan mengganti komputer yang rusak tersebut, bahkan ia menyatakan akan menyediakan back-up komputer hingga puluhan unit.
Untuk itulah, menurut kalangan Dewan maupun praktisi pariwisata, Bandara Ngurah perlu fasilitas memadai yang mampu memberikan kenyamanan kepada wisatawan. Fasilitas ini berupa layanan VIP untuk semua wisatawan sehingga mereka tidak kapok datang ke Bali . “Wisatawan ke Bali berharap happiness, bukan dihadapkan dengan masalah,” kata seorang anggota DPRD Kabupaten Badung.