Danau Buyan merupakan salah satu dari empat danau yang ada di hulu atau di tengah Pulau Bali. Jika dibandingkan dengan Danau Batur dan Beratan, jelas kawasan Danau Buyan dan Tamblingan relatif belum berkembang. Meski keindahan kawasan Danau Buyan dan Tamblingan relatif masih alami, sangatlah menarik untuk dinikinati masyarakat umum.
Bagi masyarakat Hindu Bali, di satu pihak Danau Buyan merupakan kawasan yang sakral. Keindahan dan kesakralan itu mampu menggetarkan nurani dan memberikan inspirasi tentang kearifan leluhur serta kemahakuasaan Tuhan. Akan lebih menakjubkan lagi, jika lokasi pengamatan Danau Buyan dilakukan dari ketinggian Desa Wanagiri, Gobleg dan Munduk. OIeh karenanya, pengembangan Danau Buyan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak merusak lingkungan. Karena menyangkut hajat hidup orang banyak, baik secara sekala maupun niskala.
Secara sekala. sudah tidak perlu diragukan lagi peranan kawasan Danau Buyan bagi kelestarian lingkungan abiotik, biotik dan kebudayaan. Misalnya sebagai sumber air, daerah resapan dan penghisap karbon. Sedangkan secara niskala semua umat Hindu atau Ras Austronesia pasti tahu persis bagaimana arkaiknya konsep atau filosofi keseimbangan biner parusha-pradhana, gunung-laut/danau), dan yakin akan pengaruhnya dalamn kehidupan. Sesungguhnya pendekatan niskala tidak sebatas membangun pura, tetapi yang terpenting adalah boleh tidaknya kawasan Danau Buyan dikembangkan sesuai usulan investor. Yakni danau dikeruk dan di atasnya dibangun panggung terapung.
Di lain pihak bagi masvarakat pariwisata, Danau Buyan juga dianggap sebagai salah satu objek daya tarik wisata (ODTW) yang relative kurang promosi. Sehingga, layak dikembangkan untuk diversifikasi objek dan agar lebih dikenal wisatawan. Dalam hal ini, memang benar Bali masih memerlukan lebih banyak promosi ODTW, baik secara internal maupun eksternal. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Yang pada akhirnya diharapkan dapat ineningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jika dihadapkan pada dua pilihan antara melestarikan dan menjual atau mengembangkan kawasan. Maka prioritas pilihan mestinya melestarikan dulu, kemudian barulah pengembangan yang bernilai ekonomi untuk kemajuan peradaban. Melestarikan radius kesucian danau melalui kegiatan penghijauan sangat penting agar debit air Danau Buyan kembali normal seperti dulu. Sebab, terjadinya pendangkalan dan debit air berkurang karena lingkungan dieksploitasi. Ini merupakan tantangan berat Gubernur Bali dan Bupati Buleleng. Tetapi yang pasti kegiatan pembangunan hendaknya dilakukan dengan tulus, tertib dan tegas.
Bukan hal aneh jika gambar perencanaan sering berbeda dengan kenyataan atau hasil pembangunan. Dalam proses konstruksi biasa terjadi perubahan desain, karena ada banyak faktor yang berpengaruh. Sehingga, hasil akhir tidak sesuai dengan janji manis investor. Apalagi jika pengawasan dan penegakan hukum bagi pelanggaran lingkungan sangat lemah. Vila Bukit Berbunga di sebelah selatan Danau Buyan sebagai contoh buruk. Lôkasi dan desain vila nampak sangat arogan, sehingga kontras dengan lingkungan. Vila itu ibarat daun dalam daging yang selalu dipakai acuan, vila itu boleh kenapa yang lain tidak boleh.
Jika demikian adanya, kemungkinan besar harapan surga tinggal mimpi, bukannya tercipta Buyan Eco Cultural Heaven tetapi Buvan Eco Cultural Hell. Karena kerusakan lingkungan akan makin parah. ibarat neraka bagi anak cucu di kemudian hari.