Ironis sekali, obyek wisata Alas Kedaton yang ramai dikunjungi wisatawan dan mampu menyetor pajak tinggi kepada pemerintah daerah Tabanan memiliki infrastruktur yang memperihatinkan. Jalan menuju objek wisata kera tersebut rusak parah. Jalan dari Belayu menuju objek yang panjangnya sekitar 2,5 Km itu banyak yang benlubang. Kondisi tak enak itu sudah terjadi sejak lima tahun silam. Bahkan ada korban terluka akibat terjatuh di kawasan itu.
Pihak desa sudah mengajukan surat permohonan untuk perbaikan jalan, namun belum juga ada tanggapan. Baru ada kunjungan Bupati Tabanan ke salah satu desa saat menggelar upacara dewa yadnya. baru kemudian ditambal sulam. Selain itu, jalan yang menuju obyek wisata dari jalan utama juga banyak berukir. Yang paling menyedihkan areal parkir juga banyak yang berlubang serta jalan yang melingkar di pinggir hutan. Kondisi tersebut tak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengganggu kenyamanan wisatawan yang ingin menikmati daya tarik wisata yang mengandalkan kera ini. Rusaknya infrastruktur jalan dan areal parkir tak hanya menjadi keluhan pengelola, tetapi juga menjadi keluhan wisatawan juga.
Untuk mengatasi hal tersebut pihak pengelola menambal lubang-lubang di areal parkir dengan beton. Dana yang dipakai itu dari khas desa. Padahal, areal parkir ini merupakan kerjasama dengan pihak Pemda Tabanan. Pemkab Tabanan yang investasi dana untuk pengaspalan dan toilet, walau tanah itu milik desa adat Kukuh. Tiket parkir untuk bus Rp 10 ribu, roda empat Rp 5 ribu dan sepeda motor Rp 2.000. Areal parkir ramai pada han raya, tahun baru, Galungan, Kuningan, Natal, Lebaran dan libur sekolah. Karena itu, hasil penjualan tiket parkir 35 persen masuk desa dan 65 persen menjadi milik pemkab Tabanan. Dimana luas areal parkir sekitar 60 are merupakan milik pengayah desa yang berjumlah 19 orang. Untuk menjaga areal parkir termasuk kebersihannya dilakukan oleh pihak pengelola yang dilakukan oleh pengayah desa yang sekaligus menjadi pawang kera.