Kabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli
dan Klungkung sering dlitempatkan sebagal wilayah yang menyimpan
sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari,
seni kriya dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang
dari Gianyar. Hal ini tak lepas dari kedudukan wilayah Gianyar
dimasa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan
sebelum dan awal era Majapahit.
Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat
dalam sejarah sebagai pusat pemenintahan sebelum jaman Majapahit,
sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemenintahan
saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masamasa
penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud,
Peliatan, Mas dan sekitarnya Man kuat mengarah sebagai pusat
pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan sepanjang jaman
Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya.
Dengan luas wilayah meliputi 36.800 Ha dan jumlah penduduk
sekitar 354.530 jiwa pada tahun 2001, Gianyar termasuk wilayah
yang berkepadatan sedang Berbeda dengan Denpasar sebagai
kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan
penduduk di Gianyar justru ada ke daerah pinggir kota yang
merupakan kawasan wisata terutama di daerah kecamatan Ubud.
Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga
ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata
berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan
daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay
yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar,
yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi
kawasan penyangga pariwisata dengan industri kerajinannya.
Satu wilayah dengan wilayah lain di Gianyar seolah saling
dukung dan saling melengkapi dalam mendukung Gianyar sebagai
kota budaya dan pariwisata.