Wisatawan yang masuk ke objek wisata di Bali diwajibkan menggunakan selendang maupun kain panjang (kamen), Di
balik ketaatan wisatawan ini, ternyata selendang dan kamen yang diberikan gratis ini tidak pernah dicuci dan menimbulkan bau,
Kelihatannya sangat sepele, tetapi tidak mendapat perhatian dari pihak terkait maupun pengelola objek wisata. Pemkab hanya mengeruk retribusi untuk memperbesar pundi-pundi PAD (Pendapatan Asli Daerah).
Dua hari terakhir, kunjungan wisatawan ke objek wisata Kertagosa Klungkung mengalami lonjakan karena imbas kedatangan wisatawan penumpang kapal-kapal pesiar. Sayang, pelayanan terhadap wisatawan di objek peninggalan Puri Klungkung itu tak maksimal sehingga banyak dikeluhkan.
Kamen yang dikenakan wisatawan tidak pernah dicuci (berbau). Juga masuknya pengasong yang semakin mengganggu kenyamanan wisatawan. Kainl kamen yang dibagikan gratis kepada wisatawan saat memasuki objek sudah kotor dan berbau. Selain kain, pengasong (pedagang acung) yang memaksa masuk kawasan. Jumlah mereka (pengasong) lumayan banyak. Petugas kewalahan untuk melarang mereka agar tidak memasuki areal objek, setiap ship Kertagosa dijaga dua petugas, Sedangkan pengasong jumlahnya mencapai belasan.
Berbagai keluhan wisatawan tersebut sebenarnya sudah disampaikan kepada pihak terkait. Hingga saat ini diakui belum mendapat tanggapan. Dalam dua hari terakhir jumlah kunjungan wisatawan ke Kertagosa antara 150-250 orang yang didominasi wisatawan Australia. Kedatangan wisatawan yang merupakan penumpang kapal pesiar itu tentu membawa berkah tersendiri bagi pendapatan Kertagosa dan Klungkung pada umumnya. Karena saat ini, semestinya musim sepi wisatawan. Terutama wisatawan Jepang yang beberapa pekan lalu negaranya diterjang bencana gempa bumi dan tsunami hebat. Berbeda dengan wisatawan Australia yang justeru melonjak saat ini.