Toyota Motor Corp. mengatakan Selasa (6/1) kemarin, pihaknya berencana menghentikan produksi mobil untuk sementara di seluruh pabriknya di Jepang selama 11 hari pada Februari dan Maret akibat penurunan tajam permintaan mobil global. Penghentian produksi tersebut termasuk terlama dibanding penangguhan produksi selama tiga hari pada pabrik-pabrik domestiknya pada bulan ini.
Toyota yang merupakan industri mobil terbesar dunia memperingatkan dua pekan lalu bahwa pihaknya akan mencatat suatu kerugian operasional tahunan pertama akibat menurunnya penjualan dan menguatnya mata uang yen. Perusahaan itu mencatat penurunan penjualan pada Desember sebesar 37 persen, lebih buruk ketimbang rivalnya, Honda Motor Co. dan Nissan Motor Co.
Juru bicara Toyota mengatakan, perusahaan itu telah menginformasikan kepada para pemasoknya bahwa perusahaan itu merencanakan menangguhkan operasional di 12 pabriknya di Jepang untuk enam hari pada Februari dan lima hari pada bulan Maret, mengimbangi terus menurunnya permintaan. Ia menolak untuk membicarakan penurunan produksi tersebut. Sementara itu, saham-saham Toyota naik satu persen menjadi 3.040 yen sehubungan dengan meluasnya pasar.
General Motor
Sementara itu, di Jakarta produsen otomotif asal Amenka Serikat (AS) General Motors (GM) yang berencana memproduksi kembali kendaraan di Indonesia mempertanyakan konsistensi kebijakan pemerintah Indonesia untuk mendukung kelangsungan bermvestasi di dalam negeri. “Kita memang melakukan diskusi kemarin (5/ 1), pihak GM menanyakan beberapa hal, diantaranya terkait dengan konsistensi sistem birokrasi pemerintah. Ini juga menjadi pertimbangan mereka untuk mengambil keputusan berinvestasi di Indonesia,” kata Dirjen Industri Alat Transportasi danTelematika (IATT) Bucli Dharmadi di Jakarta, kemarin.
Budi mengungkapkan, dari hasil pertemuannya dengan Presiden Direktur GM Asia Pasifik Nick Reilly, Senm (5/i), pihak pemerintah menyarankan agar GM segera mengaktifkan kembali pabrik yang telah dimilikinya di Pondok Ungu. Bekasi, untuk menghindari kerugian terlalu besar jika pabrik terlalu lama tidak beroperasi. Secara garis besar, ia mencoba menjelaskan bahwa untuk berinvestasi di sektor industn otomotif di Indonesia sangat menjanjikan, mengingat pertumbuhan penjualan otomotif di Indonesia tahun 2008 lalu tertinggi di ASEAN.
Sementara itu, Presiden Direktur GM Asia Pasiiik Nick Reffly menganggap pasar otomotif Indonesia adalah sebuah peluang yang perlu dikembangkan. Menurut Reilly, perkembangan ekonomi di Indonesia cukup baik, dan apabila komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur baik jalan maupun listrik terpenuhi, maka pasar otomotif Indonesia akan makin cepat tumbuh.
Hal yang sangat diperhatikan GM sendiri untuk mulai berinvestasi di Indonesia, menurut dia, konsistensi kebijakan pemerintah itu sendiri terutama dalam mendukung iklim investasi menjadi kondusif. Ia mengakui, Thailand lebih dulu memiliki konsistensi kebijakan dalam pemerintahannya. Meski demikian, Ia mengatakan optimis dengan kondisi Indonesia yang dinilai makin kuat dan segi politik maupun finansial.